Artificial Intelligence (AI) terus berkembang dengan sangat cepat. Jika beberapa tahun lalu perusahaan masih bertanya-tanya mengenai manfaat AI, kini fokusnya telah bergeser. Banyak organisasi mulai menerapkan AI dalam operasional sehari-hari dan memasuki fase yang disebut sebagai era inferensi (inferencing), yaitu saat model AI digunakan untuk menghasilkan jawaban, prediksi, atau rekomendasi secara real-time.
Namun, semakin banyak perusahaan mengadopsi AI, semakin besar pula tantangan yang muncul. Infrastruktur jaringan harus mampu menangani lalu lintas data yang sangat besar, menjaga keamanan informasi, dan tetap mudah dikelola tanpa harus mengganti seluruh sistem yang sudah ada.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Cisco memperkenalkan konsep End-to-End AI Networking, sebuah pendekatan yang dirancang untuk membuat infrastruktur AI lebih cepat, aman, dan mudah dikelola.
Mengapa Jaringan Menjadi Faktor Penting dalam AI?
AI modern membutuhkan akses ke data dalam jumlah besar. Saat model AI melakukan proses inferensi, data harus berpindah dengan cepat antara server, penyimpanan, aplikasi, dan pengguna.
Jika jaringan tidak mampu mengikuti kebutuhan tersebut, performa AI akan menurun. Proses yang seharusnya berjalan dalam hitungan detik bisa menjadi lebih lambat, bahkan menghambat produktivitas bisnis.
Karena itu, jaringan kini menjadi komponen penting dalam keberhasilan implementasi AI.
Tantangan Kubernetes: “Kotak Hitam” dalam Infrastruktur AI
Saat ini banyak perusahaan menggunakan Kubernetes, sebuah platform yang membantu menjalankan aplikasi dan layanan AI dalam skala besar.
Meski sangat populer, Kubernetes sering dianggap sebagai “kotak hitam” oleh tim IT. Ketika terjadi masalah performa, tim aplikasi dan tim jaringan sering kesulitan menemukan sumber masalahnya.
Misalnya, aplikasi AI berjalan lambat. Tim aplikasi mengatakan semuanya normal. Tim jaringan juga tidak menemukan gangguan. Akibatnya, proses investigasi bisa berlangsung berjam-jam tanpa hasil yang jelas.
Cisco melihat masalah ini sebagai celah besar dalam operasional AI modern.
Menghubungkan Jaringan dan Kubernetes
Melalui akuisisi teknologi Isovalent yang berbasis eBPF, Cisco kini mampu menghubungkan infrastruktur jaringan dengan lingkungan Kubernetes secara lebih menyeluruh.
Dengan integrasi ini, perusahaan dapat memperoleh visibilitas penuh terhadap alur data, mulai dari aplikasi, container, jaringan internal, hingga layanan eksternal.
Manfaat yang diperoleh antara lain:
-
Pemantauan performa secara real-time.
-
Identifikasi masalah lebih cepat.
-
Kebijakan keamanan yang konsisten.
-
Pengelolaan yang lebih sederhana.
Ketika aplikasi berpindah lokasi atau lingkungan kerja, kebijakan keamanan dapat mengikuti secara otomatis tanpa konfigurasi tambahan.
Troubleshooting Lebih Cepat dengan AI
Meskipun visibilitas jaringan meningkat, proses pemecahan masalah masih sering memakan waktu.
Untuk mengatasi hal ini, Cisco menghadirkan Cisco AI Canvas dalam platform Cisco Cloud Control.
Teknologi ini memanfaatkan AI untuk membantu tim operasional jaringan (NetOps) dan tim aplikasi bekerja dalam satu tampilan yang sama.
Ketika terjadi gangguan, AI dapat:
-
Mengumpulkan data dari berbagai sumber.
-
Menganalisis performa aplikasi dan jaringan.
-
Menemukan akar penyebab masalah.
-
Memberikan rekomendasi perbaikan secara otomatis.
Sebagai contoh, jika aplikasi berjalan lambat karena konfigurasi Quality of Service (QoS) yang kurang optimal, AI dapat langsung memberikan saran perbaikan.
Dengan pendekatan ini, waktu penyelesaian masalah dapat berkurang dari hitungan jam menjadi hanya beberapa menit.
Mengelola Banyak Pengguna AI dengan Lebih Efisien
Banyak organisasi menggunakan satu infrastruktur AI untuk melayani berbagai departemen atau pelanggan sekaligus.
Konsep ini dikenal sebagai multi-tenancy.
Masalahnya, pengelolaan multi-tenancy sering dilakukan secara manual sehingga menjadi rumit ketika jumlah pengguna terus bertambah.
Melalui kerja sama dengan Rafay, Cisco mengotomatiskan proses tersebut.
Saat pengguna baru dibuat dalam sistem, jaringan dapat secara otomatis membuat:
-
Virtual Routing and Forwarding (VRF).
-
VLAN.
-
Subnet.
-
Kebijakan isolasi jaringan.
Proses yang sebelumnya membutuhkan banyak konfigurasi kini dapat berjalan secara otomatis.
AI Job Segmentation: Keamanan yang Lebih Detail
Cisco juga memperkenalkan teknologi baru bernama AI Job Segmentation.
Teknologi ini memungkinkan jaringan memahami bukan hanya siapa pengguna suatu data, tetapi juga pekerjaan AI apa yang sedang dijalankan.
Sebagai contoh, dalam satu perusahaan:
-
Tim riset menjalankan model AI untuk penelitian.
-
Tim layanan pelanggan menjalankan chatbot AI.
-
Tim analitik menjalankan prediksi bisnis.
Dengan AI Job Segmentation, setiap tugas AI dapat dipisahkan dan diamankan secara independen meskipun berada dalam lingkungan yang sama.
Pendekatan ini meningkatkan keamanan sekaligus mengurangi risiko akses data yang tidak semestinya.
Keamanan yang Menyatu dengan Infrastruktur Jaringan
Ancaman keamanan siber juga semakin berkembang seiring kemajuan AI.
Model AI generasi terbaru mampu membantu penyerang menemukan dan memanfaatkan celah keamanan dengan sangat cepat.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Cisco menghadirkan fitur Live Protect.
Fitur ini memungkinkan administrator menerapkan perlindungan keamanan tanpa harus melakukan reboot perangkat jaringan.
Keuntungan utamanya adalah:
-
Respons lebih cepat terhadap ancaman.
-
Gangguan operasional lebih kecil.
-
Proses patching lebih fleksibel.
Perusahaan dapat langsung melindungi sistem sambil merencanakan pembaruan permanen sesuai jadwal yang tersedia.
Bersiap Menghadapi Era Komputasi Kuantum
Cisco juga mulai mempersiapkan masa depan dengan mengembangkan teknologi Post-Quantum Cryptography (PQC).
Ancaman yang muncul saat ini dikenal dengan istilah “harvest now, decrypt later”, yaitu ketika penyerang mencuri data terenkripsi hari ini untuk dibuka di masa depan menggunakan komputer kuantum yang lebih canggih.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Cisco mulai mengintegrasikan standar keamanan tahan-kuantum ke dalam produk jaringan mereka.
Langkah ini membantu perusahaan melindungi data penting dari ancaman yang mungkin muncul beberapa tahun ke depan.
Kesimpulan
Perkembangan AI telah membawa perubahan besar dalam dunia teknologi informasi. Namun keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada model atau data, melainkan juga pada infrastruktur jaringan yang mendukungnya.
Melalui konsep End-to-End AI Networking, Cisco menghadirkan solusi yang menghubungkan jaringan, aplikasi, Kubernetes, keamanan, dan otomatisasi dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Dengan visibilitas yang lebih baik, troubleshooting berbasis AI, otomatisasi multi-tenancy, keamanan yang lebih canggih, serta kesiapan menghadapi era komputasi kuantum, Cisco membantu perusahaan membangun fondasi jaringan yang kuat untuk mendukung inovasi AI di masa depan.
Bagi organisasi yang ingin mempercepat adopsi AI tanpa menambah kompleksitas operasional, pendekatan ini menjadi langkah penting menuju infrastruktur yang lebih cerdas, aman, dan siap menghadapi tantangan teknologi berikutnya.
cisco Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi cisco.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
